//
you're reading...
ARTIKEL

HUKUM MENIKAHI WANITA HAMIL (Fikih Kontemporer)


Idealnya seorang laki-laki mengawini seorang yang masih perawan status belum nikah, atau bisa juga dengan yang telah putus tali perkawinannya dan dalam keadaan suci. Namun tidak sedikit di masyarakat yang terjadi sebaliknya, wanita yang dikawini bukan hanya tidak suci lagi, akan tetapi sudah mengandung atau dalam keadaan hamil. Perkawinan seperti ini dilakukan dalam keadaan terpaksa. Dari kasus seperti ini timbul beberapa permasalahan. Sahkah akad bikah yang dilakukan dalam keadaan sang wanitya sedang hamil ? apakah mereka boleh berkumpul sebagai layaknya suamu istri dalam perkawainan yang sah? Bagaimana  ststua anak yang lahir nanti?

Ada beberapa pendapat para ulama fiqh, diantarnya Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’I dan Imamm Hambali, menurut mereka bahwa perkawanian keduanya sah dan boleh bercampur sebagaimana suami istri, dengan ketentuan, bila si pria itu yang menghamilinya dan kemudian ia mengawaininya. Namun tetap keduanya dicap sebagai penzinaq, dan pendapat para ulama yang muingkin berdasarkan ayat al-Qur’an, bahwa laki-laki penzina halal menikahi perempuan penzina. Ibnu Hazm berpendapat bahwa keduanya boleh duikawinkan dan boleh bercampur, dengan ketentuan bila ia telah bertaubat dan menjalani hukuman dera karena telah berzina. Pendapat ini berdasarkan hukum yang telah ditetapkan oleh Shahabat Nabi, diantaranya :

  1. Ketika Jabir Bin Abdullah ditanya tentang kebolehan mengawinkan orang yang telah berzina, maka beliau berkata:” Boleh mengawinkannya asalakan keduanya telah bertaubat dan memperbaiki sifat-sifatnya.
  2. Seorang laki-laki bertanya kepada Abu bakar: “Ya Amirul mukminin, putriku telah dicampuri oleh tamuku, dan akan ingin agar keduanya dikawinkan.” Ketika utu Abu Bakar memerintahkan kepada Shahabat lain untuk melakukan hukum dera kepad keduanya kemudian dikawainkan.

Ini bukanlah bahwa seseorang yang menghalangi wanita kemudian melaksanakan akad nikah, masalahnya selesai. Karena mereka telah berdosa melanggar hukum Allah, maka mereka wajib beratubat, yaitu taubat nasuha, istigfar, menyesali dan menjauhkan diri dari dosa, keduanya memulai hidup bersih tanpa dosa. Sesungguhnya Allah ta’ala menerima taubat mereka.

            Selanjutnya pernikahan bukan dengan pria yang menghamilinya, mengenai hal ini telah terhadi perbedaan pendapat para  ulama :

  1. Abu Yusuf menagtakan, bahwa keduanya tidak boleh dikawainkan, sebab kalau dikawinkan, naka pernikahan itu batal. Pendapat beliau ini berdasarkan kepada firman Allah surat an-Nur ayat 2 : “laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan kepada perermpuan yang berzina, atau perempuan musyrik, dan perempuan penzina tidak dikawinkan melainkan oleh laki-laki penzina atau laki-laki musyrik. Danyang demekian itu diharamkan bagi orang-orang mukmin “.Kemudian hadist Nabi:

    “bahwa seseorang laki-laki telah mengawini seorang wanita. Ketika dan mencampurinya, ia mendapatkannya dalam keadaan hamil lalu, di (wanita) dilaporkan kepada Rosulullah SAW. Kemudian Nabi menceraikan keduanya dan memberikan kepada wanitya maskawain, kemudian mereka didera seratus kali.”

    Ibnu Qudumah sependapat dengan Abu Yusuf, bahwa seoarang laki-laki boleh mengawaini seorang wanita yan g diketahuinya berbuat zina dengan orang lain kecuali dengan syarat:

    1. Wanita tersebut telah melahirkan, bila ia hamil. Jadi dalam keadaan hamil dia tidak boleh kawin.
    2. Wanita tersebut telah menjalankan dera baik dia hamil atau tidak.
    3. Imam Abu hanifah dan Imam Syafi’I mengatakan bahwa perkawinan itu dipandang sah, karena tidak terikat dengan perkawinan dengan orang laiun ( tidak ada masa iddah), wanita itu boleh juga dicampuri, karena tidak mungkin nasab bayi yuang terkandung ternodai oleh sperma suaminya. Sedang bayi tersebut bukan keturunan orang yang mengawini ibunya. Wanita tersebut penzina (yang hamil) keduanya tidak dikenakan had. Karena mungkin wanita itu dipaksa atau laki-laki itu mendatanginya ketika ia tidur. Pada hakikatnya waniata (kecuali pelacur) tidak mau berzina. Tetapi kalau wanita yang hamil iu karena dari perbuatan zina yang suka sama suka, maka ketentuan had tetap berlaku.
    4. Imam Muhammad Bin al-Hasan al-Syaibani mengatakan bahwa pernikahannya itu sah, tapi haram baginya bercampur, selama bayi yang dikandung belum lahir. Pendapat ini berdasarkan hadist ……….artinya:”janganlah engkau campuri wanita yang hamil hingga ia melahirkan .”

    Di dalam KHI VIII pasal 5 ayat (1), (2), dan  (3) disebutkan :

    1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dap[at dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
    2. Perkawainan dengan wanita hamil yang tersebut dalam ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya.
    3. Dengan dilangsungkannya pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawainan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

    Ketentuan KHI tiu merupakan pendkatan komprimistis dengan hukum adat. Pengkompromian itu ditinjau dari segi kenyataanya terjadinya ikhtilaf fiqh dfalam ajaran fiqh dihubungkan dengan factor sosiologis dan psikologis. Dalam hukum adat tersimpul azas, “ setiap tanaman yang tumbuh di ladang seseorang , dialah pemilik tanaman itu, walaupun bukan dia yang menanamnyua.”. selain itu tujuan utam azas kebolehan kawin hamil adalah untuk memberikan perlidungan hukum yang pasti kepada anak yang dalam kandungan, walaupun anak tersebut ststusnya adalah anak zian.

    Sumber: diambil dari FIkih Aktual,Membahas Problematika Hukum Islam Kontemporer.  Karya Ajat Sudrajat.

 

 

 

About TokiMachi

Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: