//
you're reading...
ARTIKEL


Pengajuan Gugatan Permohonan

a.  Pengertian Gugatan/Permohonan

gugatan ialah suatu surat yang diajukan oleh penggugat kepada Ketua Pengadilan yang berwenang, yang memuat tuntutan hak yang didalamnya mengandung suatu sengketa dan sekaligus merupakan dasar landasan pemerikasaan perkara dan pembuktian kebenaran suatu hak.

Surat permohonan ialah suatu permohonan yang di dalamnya berisi tuntutan hak perdata oleh suatu pihakyang berkepentingan terhadap sauatu hal yang  tidak mengandung sengketa, sehingga badan peradilan yang mengadili dapat dianggap sebagai suatu proses peradilan yang bukan sebenarnya

.

Dalam perkara gugatan terdapat dua pihak yang saling berhadapan (yaitu penggugat dan tergugat), sedang dalam perkara permohonan hanya ada satu pihak sja (yaitu pemohon). Namun demikian di Pengadilan Agama ad permohonan yang perkaranya mengandung sengketa, sehingga di dalamnya ada dua pihak yang disebut pemohon dan termohon, yaitu dalam perkara permohonan ijin ikrar talak dan permohonan ijin beristeri lebih dari seorang.

b. Gugatan Lisan, Tertulis dan Lewat Kuasa Hukum

Pada prinsipnya semua gugatan/permohonan harus dibuat secara tertulis. Bagi penggugat/permohonan yang tidak dapatt membaca dan menulis, maka gugatan/permohonan diajukan secara lisan kepada ketua Pengadilan Agama.

Ketua dapat menyuruh kepada hakim untiuk mencatat segala sesuatu yang dikemukakan oleh penggugat/pemohon maka gugatan/permohonan tersebut ditandatangani oleh Ketua/Hakim yang menerimannya itu berdasarkan ketentuan pasal 114 ayat (1) R.Bg atau pasal 120 HIR.

Gugatan/permohonan yang dibuat secara tertulis, ditandatanagani oleh penggugat/pemohon (pasal 142 ayat (1) R.Bg/118 ayat (1) HIR ). Jika penggugat/pemohon telah menunjuk kuasa khusus maka surat gugatan/permohonan ditandatangani oleh kuasa hukumnya (pasal 147 ayat (1) R.Bg/123 HIR).

Surat guagatn/permohonan dubuat rangkap enam , masing – masing satu rangakap untuk penggugat/pemohon, satu rangkap untuk tergugat/pemohon atau menurut kebutuhan dan empat rangkap untuk majelis hakimyang memeriksanya. Apabila surat gugatan hanya dibuat satu rangkap, maka harus dubuat salinannya yang diperlukan dan dilegalisisr oleh Panitera

c. Isi Gugatan /Permohonan


    Identitas para pihak (penggugat/pemohon dan tergugat/ termohon):

  1. Nama (beserta bin/binti dan aslinya)
  2. Umur
  3. Pekerjaan
  4. Agama
  5. Tempat tinggal. Bagi pihak yang tempat tinggalnya tidak diketahui hendaknya ditulis, “Dahulu bertempat di …tetapi sekarang tidak diketahui tempat tinggalanya di indonesia,”
  6. Kewarganegaraan (jika perlu)
  7. Posita, yaitu penjelasan tentang keadaan/peristiwa dan penjelasan yang berhubungan dengan hukum yang dijadikan dasar/alasan gugat. Posita memuat:
    1. Alsan yang berdasarkan fakta/peristiwa hukum.
    2. Alsan yang berdasarkan hukum, tetapi hal ini bukan merupakan keharusan. Hakimlah yang harus melengkapainya dlam keputusan nanti.
  8. Petitum, yaitu tuntutan yang diminta oleh penggugat/pemohona atau kuasanya dalam hal mengajukan gugatan/per,ohonan (pasal 143 B.Rg/ pasal 119 HIR)
  9. Ketua/hakim dapat membantu Penggugat/pemohon atau kuasa-nya dalam hal mengajukan gugatan/permohonan(pasal 143 b.rg/pasal 119 hir).

    About TokiMachi

    Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

    Discussion

    No comments yet.

    Leave a Reply

    Please log in using one of these methods to post your comment:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s