//
you're reading...
HUKUM

Pinjaman (Ariyah)


 Pengertian Ariyah

Pinjaman atau ariyah menurut bahasa ialah pinjaman, sedangkan menurut istilah ariyah menurut Hanafiyah adalah memilikan manfaat secara cuma-cuma, menurut Malikiyah ariayah adalah mamilikan manfaat dalam waktu tertentu dengan tanpa imbalan. Menurut Syafi’iyah ariyah adalah kebolehan  mengambil manfaat dari seorang yang membebaskannya, apa yang mungkin untuk dimanfaatkan, serta tetap zat barangnya supaya dikembalikan kepada pemiliknya. Berdasarkan difinsi-difinisi diatas tadi kiranya dapat kita simpulkan ariyah berdasarkan istilah adalah memberikan manfaat suatu barang dari seseorang kepada orang lain secara cuma-cuma (gratis).

Dasar Hukum Ariyah

Menurut Sayyid Sabiq, tolong menolong (ariyah) adalah sunnah. Sedangkan menurut al-Ruyani, sebgaimana dukutip oleh Taqiy al-Din, bahwa ariyah hukumnya wajib ketika awal Islam.adapun landasan hukumnya dalam nash Alqur’an ialah dalam surat Al-Maidah ayat 2, surat Al- Nisa ayat 58. Yang

“Dan tolong-menolonglah kamu untuk berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong untuk berbuat dosa adan permusuhan.” (Al-Maidah:2)

       Selain itu ada juga hadist yang melandasi hukum ariyah yaitu hadis yang keluarkan oleh Abu Dawud yang bunyinya:

“ Sampaikanlah amanat orang yang memberikan amanat kepadamu dan janganlah kamu khianati sekalipun dia khianat kepadamu.”(dikelarkan oleh Abu Dawud)

  Rukun dan Syarat Ariyah

Menurut Hanafiyah, rukun ariyah adalah satu, yaitu ijab dan qobul, tidak wajib diucapkan, tetapi cukup dengan menyerahkan pemilik kepada peminjam barang yang dipinjami dan boleh hukum ijab qobul dengan ucapan.

Menurut Syafi’iyah, rukun ariyah adalah :

  1. Kalimat mengutangjan (lafazh), seperti seseorang berkata “saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata “ Saya mengaku berutang benda ini kepada kamu”. Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli.
  2. Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan musta’ir yaitu orang yang menerima utang. Syarat bagi mu’ir adalah Pemilik yang berhak menyerahkannya, sedangkan syarat-syarat bagi mu’ir dan musta’ir adalah :
  • Baligh, maka batal ariyah yang dilakukan anak kecil atau shaby
  • Berakal, maka batal ariyah  yang dilakukan oleh orang yang sedang tidurdan orang gila.
  • Orang tersebut tidak dimahjur (dibawah curatelle), maka tidak sah ariyah yang dilakukan oleh orang yang berada di bawah perlindungan (curatelle), seperti pembros.
  1. Benda yang dihutangkan. Pada rukun ketiga ini disyaratkan dua hal, yaitu:
  • Materi yang dipinjamkan dapat dimanfaatkan, maka tidak sah ariyah yang materinya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat dugunakan untuk menyimpan padi.
  • Pemanfaatan itu dibolehkan, maka batal ariyah  yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh syara’ seperti meminjam benda-benda najis.

 

Pembayaran Pinjaman

Setiap orang yang meminjam sesuatu kepada orang lain berarti peminjam memiliki utang kepada yang berpiutang (mu’ir). Setiap utang wajib dibayar sehingga berdosalah orang yang tidak mau membayar utang, bahkan melalaikan pembayaran uatang juga termasuk aniaya. Perbuatan aniaya merupakan salah satu perbuatan dosa. Rosulullah SAW bersabda : “ Orang kaya yang melalaikan kewajiban menbayar hutang adalah aniaya. “ (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Melebihkan bayaran dari sejumlah pinjaman doperbolehkan, asal saja kelebihan itu merupakan kemauan dari yang berutang semata. Hal ini menjadi nilai bagi yang membayar hutang. Rosulullah Saw. Bersabda :” sesungguhnya di antara orang yang terbaik dari kamu adalah orang yang sebaik-baiknya dalam membayar hutang “ (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Akan tetapi jika tambahan tersebut dikehendaki oleh orang yang berutang atau talah menjadi perjanjian dalam akad peruatangan, maka tambahan itu tidak halal bagi yang berpiutang untuk mengambilnya. Rosul bersabda : “Tiap-tiap piutang mengambik manfaat, maka itu adalah salah satu cara dari sekian cara riba.” (dikeluarkan oleh Baihaqi)

   Tanggung Jawab Peminjam

Bila peminjam telah memegang barang-barang pinjaman, kemudian barang tersbut rusak, ia berkewajiban menjaminnya, baik karena pemakaian yang berlebihan maupun karena yang lainnya. Demikian menurut Ibnu Abbas, Aisyah, Abu Hurairah, Syafi’i, dan Ishaq dalam hadist yang diriwayatkan oleh samurrah, Rosulullah Saw, bersabda :

“Pemegang berkewajiban menjaga apa yang ia terima, hingga ia mengembalikannya.”

Sementara para pengikut Hanafi dan Maliki berpendapat bahwa, peminjam tidak berkewajiban menjamin barang pinjamannya, kecuali karena tindakannya yang berlebihan, karena Rosulullah Saw, bersabda : “Peminjam yang tidak berkhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan, orang yang dititipi yang tidak berkhianat tidak berkewajiban mengganti kerusakan .” (Dikelurkan oleh Al-Daruquthi).

Tatakrama Berutang

Ada beberapa hal yang dijadikan penekanan dalam pinjam-meminjam atau utang-piutang tentang nilai sopan –santun yang terkait di dalamnya, ialah sebagai berikut :

  1. Sesuai dengan QS. Al- Baqoroh:283, utang-piutang supaya dikuatkan dengan tulisan dari pihak berutang dengan disaksikan dua orang saksi laki-laki atau dengan seorang saksi laki-laki dengan dua orang saksi wanita. Untuk dewasa ini tulisan tersebut terbuat di atas kertas bersegel atau bermaterai.
  2. Pinjaman hendaknya dilakukan atas dasar adanya kebutuhan yang mendesak disertai niata hati akan membayarnya/mengembalikannya.
  3. Pihak berpiutang hendaknya berniat memberikan pertolongan kepada pihak berutang. Bila yang meminjam tidak mapu mengembalikan, maka yang berpiutang hendaknya membebaskannya.
  4. Pihak yang berutang bila sudah mampu membayar pinjaman, hendaknya dipercepatpembayaran utangnya karena lalai dalam pembayaran pinjaman berarti berbuat zalim

 

 

About TokiMachi

Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s