//
you're reading...
ARTIKEL

ZAKAT PROFESI


  1.      PENGERTIAN ZAKAT PROFESI

Kata ”zakat” secara etimologis berarti suci, berkembang, barakah.[1] Dan juga berarti tumbuh dan berkembang.[2] Sedangkan zakat secara istilah adalah bagian dari harta dengan persyaratan tertentu, yang Allah SWT mewajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada pihak yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.[3] Dalam Undang-undang zakat No.23 Tahun 2011 bahwa zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat islam.

Profesi sendiri dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian(keterampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu. Profesional bersangkutan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Jadi, zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha yang halal yang mendapatkan hasil (uang) yang relatif banyak dengan cara yang mudah melalui suatu keahlian tertentu.[4]

Zakat termasuk salah satu dari rukun islam yang mewajibkan atas semua orang islam yang merdeka(bukan budak), baligh, berakal bila telah mencapai satu nishab.[5] Berbeda dengan sumber pendapatan dari pertanian, peternakan dan perdagangan, sumber pendapatan dari profesi tidak banyak dikenal di masa generasi terdahulu. Oleh karena itu pembahasan mengenai tipe zakat profesi tidak dapat dijumpai dengan tingkat kedetilan yang setara dengan tipe zakat yang lain. Namun bukan berarti pendapatan dari hasil profesi terbebas dari zakat, karena zakat secara hakikatnya adalah pungutan terhadap kekayaan golongan yang memiliki kelebihan harta untuk diberikan kepada golongan yang membutuhkan.[6] Menurut Yusuf Qardhawi, profesi yang menghasilkan uang ada 2 macam, yaitu :[7]

  1. Pekerjaan yang dikerjakan sendiri tanpa bergantung pada orang lain, berkat kecekatan tangan dan otak.

Contoh : Dokter, insinyur, advokat seniman, penjahit, tukang kayu dan lain-lain.

  1. Pekerjaan yang dikerjakan untuk pihak lain baik pemerintah, pengusaha/perorangan dengan memperoleh upah yang diberikan dengan tangan, otak atau keduanya.
  2. 2.       DASAR HUKUM ZAKAT PROFESI

Ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta untuk dikeluarkan zakatnya seperti :

  1. Al-Qur’an surat Al-Baqarah: 267, yaitu :[8]

”Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah(zakatkanlah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…”

  1. Al-Qur’an surat Al-Taubah : 103

”Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka…….”

  1. Al-Qur’an surat Al-Zakiyat : 19

”Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bagian”

Dan juga hadis :[9]

”Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan.”(HR. Thabrani)

  1. 3.      WAKTU, NISHAB, KADAR SERTA CARA MENGHITUNG ZAKAT

Harta yang dimiliki seseorang hakikatnya adalah titipan sebagai amanat Allah SWT untuk disalurkan sesuai dengan kehendak pemiliknya. Islam tidak mewajibkan zakat atas seluruh harta benda, sedikit atau banyak, tetapi mewajibkan atas harta benda yang sampai nishab, bersih dari hutang serta lebih dari kebutuhan pokok pemiliknya. Hal ini untuk menetapkan siapa yang tergolong orang kaya yang wajib zakat karena zakat hanya dipungut dari orang-orang kaya tersebut. Mengenai waktu, nishab dan kadar dikeluarkan zakat itu tergantung Qiyas (analogi) yang dilakukan :

  1. Zakat yang dianalogikan pada zakat perdagangan yang waktu, nishab dan kadarnya disamakan pada zakat emas dan perak dan dibayarkan setelah sempurnanya hawl yakni sekali dalam setahun. Nishabnya dari emas adalah 94 gram dan perak 672 gram. Kadar zakatnya adalah 2,5 %. Jika harga emas Rp. 100.000/gram, maka seseorang yang memiliki penghasilan sejumlah Rp.100.000 x 94 = Rp. 9.400.000, wajib membayar zakatnya sebesar 2,5% x Rp. 9.400.000 = Rp. 235.000.[10]
  2. Dianalogikan pada zakat pertanian, zakat ini tidak mengenal hawl jadi dibayar ketika tiba masa panen, walaupun itu terjadi berulang-ulang dalam setahun. Jika penghasilan dari gaji, honor, komisi,uang jasa dan sebagainya yang diterima kurang dari nishab, maka jumlah dari penghasilan tersebut supaya dihitung dan dikumpulkan dengan penghasilan pada waktu-waktu berikutnya sampai satu nishab.sesudah satu tahun dan sudah sampai nishab maka wajib membayar zakatnya. Nishab zakat pertanian yaitu sebesar 5 wasaq atau 759 kg beras yang wajib dibayarkan zakatnya 5%-10%. Bila pertanian menggunakan irigasi, maka zakatnya 5% dan bila pertanian itu mengambil air dari langit, maka dikeluarkan 10%. Jika harga beras @kg Rp. 3.000, maka yang berpenghasilan Rp.3.000 x 759 =Rp. 2.277.000, wajib membayar zakatnya; kalau 5% yakni 5 x Rp. 2.277.000 : 100 = Rp. 113.850, dan kalau 10%, maka 10 x Rp. 2.277.000 : 100 = Rp. 227.700.[11]
  3. Dianalogikan kepada zakat barang temua (rikaz), jelas tidak ada nishabnya, langsung dikeluarkan zakatnya saat memperoleh harta tersebut yakni sebesar 20%. Cara menghitungnya : jika menemukan uang sebesar Rp. 5.000.000, maka 20% x Rp. 5.000.000 = Rp. 1.000.000

 

 


[1] Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Pemberdayaan Zakat (Upaya Sinergis Wajib Zakat dan Pajak di Indonesia)(Yogyakarta: Pilar Media (Anggota Ikapi), 2006.), 11.

[2] Wahbah Al-Zuhayly, Zakat Kajian Berbagai Madzab(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008,), 82.

[3] Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Pemberdayaan Zakat (Upaya Sinergis Wajib Zakat dan Pajak di Indonesia)(Yogyakarta: Pilar Media (Anggota Ikapi), 2006.), 13

[4] Muhammad, Zakat Profesi: wacana pemikiran dalam fiqih kontemporer(Jakarta: Salemba Diniyah, 2002,), 58.

[5] Arief Mufraini, Akuntansi dan manajemen Zakat(mengomunikasikan kesadaran dan membangun jaringan)(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008,), 82.

[6] www.wikipedia.com, 2/3/2012, 11:50

[7] Abdul Ghofur Anshori, Hukum dan Pemberdayaan Zakat (Upaya Sinergis Wajib Zakat dan Pajak di Indonesia)(Yogyakarta: Pilar Media (Anggota Ikapi, 2006.), 86

[8] Ibid, hal 87.

[9] Ibid, hal 88.

[10] Ajat Sudrajat, Fikih Aktual(membahas problematika hukum islam kontemporer)(Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2008 )hal 307.

[11] Ibid, hal 309.

About TokiMachi

Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s