//
you're reading...
ARTIKEL

AGAMA DAN PEMIKIRAN AGAMA


Perlu untuk kita pahami bersama bahwa antara agama dan pemikiran agama adalah berbeda. Namun banyak dari kalangan kita yang masih memahami antara agama dan pemikiran agama itu sama, inilah yang terkadang menyebabkan diantara kita saling menghujat satu sama lain dan juga saling menuduh sesat. Maka memahami kembali apa itu agama dan apa itu pemikiran agama dirasa sangat penting sekali, karena ini akan mampu mengurangi sikap saling menyalahkan dan saling menyesatkan diantara sesama muslim. Makna “agama” (ad-din) dalam konteks agama Islam adalah apa yang datang dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa Al-Qur’an , ucapan, atau tindakan yang berhubungan dengan agama Islam atau penerapannya. Al-Qur’an dan Al-Hadist merupakan teks (nashsh) keagamaan.

Teks yang memuat selain kehidupan Nabi Muhammad Saw, tidak dapat berbicara sendiri, tidak dapat menjelaskan tentang dirinya, dan tidak dapat menjelaskan maknanya dan tidak tidak dapat menetapkan apa-apa yang ada didalamnya. Dengan itu, Al-Qur’an telah ditafsirkan dengan hadist, dan keduanya ditafsirkan dari segenap sisi. Dari beberapa hadist yang sebagian diutamakan dari pada yang lain dan interpretasi para ahli tafsir termasuk didalamnya perbedaan mahzab, pendapat dan budaya serta perbedaan pandangan para ahli fiqih dalam masalah-masalah yang difikirkan kemudian dari itu semua lahirlah pemikiran keagamaan.

Pemikiran keagamaan ini bukanlah merupakan agama, melainkan pemikiran yang meliputi dan berporos pada agama. Pemikiran keagamaan secara garis besar tidak mungkin melulu pada agama karena biasanya pemikiran tersebut dipengaruhi oleh lingkungan yang berbeda, tafsir yang berbeda, mahzab yang berbeda, kepercayaan-kepercayaan umum dan donggeng-donggeng rakyat. Dari sisi lain, pemikiran keagamaan seperti ini, mustahil akan selamanya benar dan suci. Mungkin disatu sisi ia akan membawa kebenaran dan disisi lain mungkin ia akan membawa pada kesalahan sebagaimana ia tercampuri oleh tujuan-tujuan, sebagaimana pendapat seorang manusia.

Pengertian agama (ad-din) dan pemikiran keagamaan (al-fikr ad-din) secara ringkas adalah Agama merupakan kumpulan dasar-dasar yang dibawa oleh Nabi atau Rasul, sedangkan pemikiran keagamaan adalah metode-metode historis untuk memahami dasar-dasar itu dan penerapannya. Setiap pemahaman atas teks-teks keagamaan dan dan setiap interpretasi atasnya setelah nabi wafat merupakan pemikiran keagamaan. Oleh karena itu pemahaman atau interpretasi ini terkadang cocok dengan inti agama dan terkadang tidak.

Sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa pemikiran manusia termasuk di dalamnya pemikiran agama merupakan produk alamiah dari sejumlah situasi histories dan fakta-fakta social pada masanya. Dengan hal itu pemikiran agama juga tidak terlepas dari hukum-hukum yang menentukan gerak pemikiran manusia pada umumnya. Maka kemudian pemikiran agama seharusnya tidak mendapatkan sakralitas dan kemutlakan hanya karena objeknya adalah agama. Agama dan pemikiran agama harus dibedakan karena keduanya memiliki perbedaan yang kuat.

Agama adalah sejumlah teks suci yang secara histories sudah mapan, sementara pemikiran agama merupakan ijtihad-ijtihad manusia dalam memahami teks-teks tersebut dan menghasilkan maknanya. Oleh karena itu wajar apabila ijtihad-ijtihad tersebut berbeda-beda dari masa ke masa, karena hal itu di pengaruhi oleh lingkungan social, histories dan geografis yang berbeda di antara mujtahid-mujtahid. Di dalam teks-teks keagamaan banyak di sebutkan tentang fenomena alam dan kemanusiaan dalam konteks nikmat-nikmat yang di berikan Allah kepada manusia, dan pemikiran agama sepanjang sejarah berusaha untuk menafsirkan teks-teks tersebut. Tafsir-tafsir tersebut senantiasa merefleksikan taraf perkembangan ilmiah-rasional dari masa, lingkungan dan pribadi penafsir. Yang patut untuk di perhatikan dari penafsir adalah mereka tidak berasumsi bahwa penafsirannya itu merupakan ‘Islam’. Teks keagamaan menyerahkan penafsiran tentang fenomena yang ada kepada pemikir-pemikir agama karena akal manusia yang selalu berkembang untuk mengeksplorasi horizon-horison alam dan manusia. Dengan hal itu, menjadi salah satu penyebab mengapa prestasi-prestasi ilmiah dan teknologi berhasil di capai oleh cendikiawan muslim. Dan mereka inilah yang sering di puji oleh pemikiran agama kontemporer dan di banggakan sebagai perintis metode eksperimental yang mereka berikan kepada eropa pada permulaan era renaissance.

Terlepas dari itu, bahwa di kalangan umat muslim saat ini masih banyak yang memahami antara agama dan pemikiran agama adalah sama. Memang keduanya memiliki relasi yang sangat kuat akan tetapi keduanya sangat berbeda. Agama merupakan ajaran-ajaran yang diturunkan Allah secara murni tanpa ada campuran dari pikiran manusia, sedangkan pemikiran agama adalah pemahaman seseorang manusia atas ajaran yang diturunkan Allah dalam rangka mencari makna. Dengan hal itu agama bersifat abadi, sakral dan tidak dapat dibongkar pasang karena ia berasal dari fikiran Tuhan dan hanya Dialah yang berhak untuk mengganti ajaran tersebut. Sedangkan pemikiran agama bersifat sementara, tidak sakral dan dapat dibongkar pasang sesuai dengan kondisi dan keadaan dimana dia hidup, karena pada dasarnya pemikiran agama adalah hasil pemahaman seorang mujtahid atas agama itu sendiri.

Untuk lebih mendalami tentang agama dan pemikiran agama tentu kita harus kembali pada sejarah awal munculnya agama itu sendiri, yang dalam hal ini adalah agama Islam. Islam tentu tidak bisa dipisahkan dengan Al-qur’an karena di dalam Al-qur’anlah umat muslim menemukan ajaran yang itu bersifat perintah maupun larangan. Sedangkan Al-qur’an itu sendiri adalah ajaran yang bersifat global yang didalamnya terdapat ayat-ayat yang tidak membutuhkan interpretasi (qath’i) dan ada juga ayat-ayat yang membutuhkan interpretasi (zhanni).

Pemikiran keagamaan objeknya adalah ayat-ayat zhanni, karena ayat-ayat zhanni adalah lafadz-lafadz yang memiliki pengertian lebih dari satu kata dan memungkinkan untuk ditakwilkan. Maka dalam lingkup inilah yang menjadi bahasan para kaum mujtahid atau pemikir Islam. Sedangkan ayat-ayat qath’i tidak bisa menjadi wilayah ijtihad, karena ayat-ayat qath’i merupakan jiwa dari hukum itu sendiri.

Ayat-ayat zhanni inilah yang menjadi embrio awal perbedaan hasil pemikiran/ijtihad para pemikir Islam. Perbedaan arti terhadap suatu kata akan menyebabkan hasil ijtihad seorang mujtahid akan berbeda jauh dengan mujtahid/ pemikir Islam lainnya. Salah satu contoh yang mungkin sudah banyak kita dengar adalah nikahnya seorang wanita yang masih gadis apakah sah atau tidak nikahnya tersebut tanpa adanya wali, Imam Syafi’i dalam masalah ini berpendapat bahwa nikahnya gadis tersebut tidak sah karena tidak adanya wali, hal ini didasarkan pada hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Turmuzi, Abu Dawud, dan Tabrani dari Aisyah. Sedangkan Imam Hanafi berbeda dengan pendapatnya Imam Syafi’i beliau berpendapat bahwa nikahnya gadis tersebut tetap sah meskipun tidak adanya wali, alasan yang digunakan oleh Hanafi adalah maksud hadist tersebut anak kecil, budak wanita.

Gambaran diatas merupakan sekelumit perbedaan hasil ijtihad diantara para mujtahid, tentunya selain itu masih banyak lagi. Perbedaan arti suatu kata dan perbedaan metode dalam berfikir merupakan beberapa hal yang menjadikan sebuah ijtihad menjadi sangat berbeda.

Tentunya bagi kita para intelektual-intelektual muda hal-hal tersebut merupakan sebuah hal yang wajar karena perbedaan pandangan dan persepsi merupakan rahmat, tergantung bagaimana cara kita mensikapinya. Tak pantaslah bagi kita saling menyalahkan diantara sesama dikarenakan pendapat mereka berbeda dengan kita karena pada dasarnya yang berhak untuk mengatakan benar atau salah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan dialah seadil-adilnya hakim dalam memutuskan sesuatu perkara.*

*By Muriqul Haqqi (Tulisan ini telah diterbiitkan pada buletin Nomos SMJ Syari’ah STAIN Ponorogo edisi April 2010).

About TokiMachi

Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s