//
you're reading...
ARTIKEL

FIQIH KONTEKSTUAL


 Menurut Al-zarkasyi dalam al-burhan fi ulum al-Qur’an bahwa ilmu-ilmu al-Qur’an dan tafsir telah mencapai puncak kematangannya, bahkan siap saji dan santap, maka ilmu fiqih beserta fundamen-fundamennya juga dianggap oleh sebagian pengkaji fiqih telah matang. Dan karena keserbasempurnaan fiqih, lalu tugas seorang ahli fiqih hanya dibatasi pada upaya-upaya mengadobsi, mengakomodasi dan melanjutkan keseluruhan pemikiran dan mazhab yang dihasilkan para ulama terdahulu.

Sejumlah kitab fiqih yang diajarkan di berbagai perguruan tinggi islam, pesantren dan sekolah-sekolah keagamaan, pada umumnya hanya membacakan kembali kitab-kitab fiqih yang ditulis para ulama beberapa abad yang silam. Pada umumnya mereka hanya memproduksi pandangan-pandangan fiqih klasik, dan tidak memproduksi pandangan-pandangan alternatif yang relevan dengan konteks kekinian. Pendapat-pendapat ulama fiqih klasik hanya berbicara untuk kebutuhan zamannya, bukan untuk kebutuhan zaman di mana kita hidup saat ini. Diantara dilema fiqih ynag paling serius adalah tatkala berhubungan dengan pembahas yang melibatkan kalangan di luar komunitasnya, yaitu non-muslim. Pada tataran ini, fiqih mengalami kelemahan yang sangat luar biasa. Dimensi keuniversesalan dan kelenturan fiqih seakan hilang. Dengan realita seperti itu, maka perlu adanya perspektif baru terhadap fiqih, yaitu meletakkan kembali sebagai produk budaya atau produk yang hadir dalam zaman tertentu untuk komunitas tertentu pula. Selama ini kitab fiqih seakan-akan terlalu dimanja dan disakralkan hingga fiqih tidak terjamah secara lebih mendasar. Fiqih yang berarti pemahaman, mengharuskan adanya dialektika dinamis antara teks dan konteks. Sebab, fiqih tidak lahir dari kevakuman, melainkan sebagai respon terrhadap problem zamannya. Dengan dasar itu, maka diperlukan pisau pembedah guna mendongkrak kesadaran kolektif para pengkaji fiqih kontemporer agar secara proaktif melakukan pembacaan ulang terhadap fiqih klasik. Di satu sisi, fiqih merupakan khazanah yang menjadi kebanggaan setiap muslim, tapi disisi lain tak terelakkan fiqih menjadi hambatan serius dalam menyikapi sejumlah problem kemanusiaan yang tidak tersentuh para ulama fiqih terdahulu.

Dalam hal pembaharuan fiqih, sebenarnya telah muncul beberapa tokoh besar, antara lain : Dr. Ali jum’ah (mesir), Jamaluddin athiyah (mesir), Jamal al-bana (mesir), Dr.Yusuf Qardawi (qatar), Muhammad syahrur (suriah) Menurut mereka, betapa pentingnya membaca kembali kitab klasik secara kritis, bukan dalam hal membongkar-pasang fiqih yang ada, melainkan dalam hal memperbaharui fiqih dan ushul fiqih guna menjawab beberapa problem kekinian. Ada sebagian kalangan, yang menjadikan fiqih bukan sebagai cara atau alat untuk memahami doktrin keagamaan, melainkan sebagai dogma yang kaku yang ujung-ujungnya adalah formalisasi syari’at.

Faktor yang menyebabkan kebekuan pemahaman adalah kecenderungan untuk mengagungkan suatu masa tertentu sebagai masa yang paling islami. Kecenderungan glorifikasi itu menyebabkan kemandegan dalam pemikiran fiqih. Rumusan hukum dan metode istimbat yang diperkenalkan ulama terdahulu dianggap final, sehingga tidak dimungkinkan lagi untuk dikembangkan secara dinamis dan kreatif, apalagi dimodifikasi. Sejumlah sarjana yang menawarkan pemikiran ulang atau tajdid dalam metodologi usul fiqih agar lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan masyarakat islam modern selalu mendapatkan cemoohan dan tak jarang diisolasikan dari percaturan pemikiran islam, diantara sarjana itu adalah Dr.Hasan al-Turabi. Dia memandang perlu adanya pembaharuan ushul fiqih dan fiqih karena beberapa alasan. Pertama, produk-produk ushul fiqih dalam tradisi pemikiran fiqih klasik masih bersifat sangat abstrak dan berupa wacana teoritis yang tidak mampu melahirkan pemahaman komprehensif dan justru melahirkan perdebatan yang tak kunjung selesai. Kedua, fiqih saat ini lebih berorientasi pada ijtihad pada masalah ibadah ritual dan masalah kekeluargaan. ekonomi, hubungan luar negeri dan sebagainya belum memiliki tempat yang semestinya dalam kajian fiqih.

Sedang menurut Dr.Yusuf Qardawi mandulnya fiqih ditandai dengan sistematisasi fiqih yang dimulai dengan pembahasan mengenai ibadah. Menururnya, karakteristik fiqih seperti ini telah memandulkan cara pandang fiqih terhadap masalah-masalah sosial, politik dan ekonomi. Dengan dasar itu dia, mengajukan alternatif pemikiran agar fiqih direformasi menjadi fiqih realitas (fiqh al-waqi’) dan fiqih prioritas (fiqh al-awlawiyah) yaitu fiqih yang dapat dijadikan sebagai sinaran baru bagi problem kemanusiaan yang muncul ditengah-tengah masyarakat. Dalam hal ini, fiqih diharapkan tidak lagi hanya bercorak vertikalistik, yang hanya mengupas masalah hubungan manusia dengan tuhan, melainkan mencoba merambah masalah-masalah kemanusiaan. Fiqih didesak untuk menyentuh isu-isu kesetaraan jenderdan lain-lain. Dari sini kita dapat melihat, bahwa mendinamisasikan fiqih merupakan langkah awal guna mendekonstruksi syari’at dari wajahnya yang statis, ekslusif dan diskriminatif menjadi syari’at yang dinamis, inklusif dan egalitarianistik. Langkah kolosal yang dilakukan ulama fiqih kontemporer dalam rangka memperbaharui fiqih adalah mencoba melihat syari’at sebagai sumber nilai dan etika sosial, bukan hanya sekedar sebagai sumber hukum. Jika syari’at hanya diletakkan dalam kerangka sumber hukum saja maka syari’at akan kehilangan kelenturannya. Akibatnya syari’at rentan pada monopoli tafsir untuk kepentingan kekuasaan.

Maka yang perlu untuk dikedepankan adalah fiqih al-maqasid, yaitu fiqih yang lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti kemaslahatan, keadilan, dan kesetaraan dari pada hukum-hukum yang bersifat partikular. Diantara ulama yang sangat menonjol dalam mengembangkan fiqh maqasid adalah Abu Ishaq al-Syatibi (790H). Beliau menulis buku yang sangat menarik yaitu al-Muwafaqad Fi Ushul al-Syariah ( Beberapa konsensus dalam dasar-dasar syari’at). Buku tersebut dipandang sebagai kerangka metodologis dalam memahami syari’at dan bukannya kesimpulan-kesimpulan hukum (istinbath al-ahkam). Pandangannya tentang syari’at dan fiqih seakan-akan dipahami oleh sebagian kalangan sebagai kebenaran kognitif (al-haqiqah fi al-adzhan), bukan sebagai kebenaran praksis (al-haqiqah fi al-a’yan). Sehingga fiqih disakralkan sebagai pandangan yang kebenarannya tidak bisa ditafsir dan diperdebatkan sehingga kita mengalami kemiskinan paradigmatik dan metodologis karena yang dilakukan oleh ulama saat ini adalah reproduksi pandangan-pandangan klasik.

Dalam memaknai fiqih sebagai sumber etika sosial dan kemaslahatan, beliau membagi dalam tiga tingkatan:

Pertama, Kemaslahatan yang bersifat primer (al-dharuriyah), yaitu kemaslahatan yang mesti menjadi acuan utama bagi implementasi syari’at. Sebab jika tidak maka akan terjadi ketimpangan dan ketidakadilan yang mengakibatkan ambruknya tatanan sosial.

Kedua, Kemaslahatan yang bersifat sekunder (al-hajiyah), yaitu kemaslahatan yang tidak mengakibatkan ambruknya tatanan social dan hukum, melainkan sebagai upaya untuk meringankan bagi pelaksanaan hukum. Misalnya dispensasi dalam menjalankan ibadah apabila dalam pelaksanaannya mengalami kesulitan.

Ketiga, Kemaslahatan yang bersifat suplementer (al-tahsiniyah) yaitu kemaslahatanyang  memberikan perhatian pada masalah estetika dan etika. Misalnya ajaran tentang kebersihan, keindahan dan bantuan kepada orang lain.

Pembaharuan fiqih dianggap perlu terutama dalam hal merajut kembali hubungan antar agama yang sekian tahun ternodai, diantaranya adalah:

Pertama, Pembaharuan pada level metodologis.

Misalnya interpretasi terhadap teks-teks fiqih secara kontekstual, Bermazhab secara metodologis dan verivikasi antara ajaran yang pokok dan cabang.

Kedua, Pembaharuan pada level etis.

Misalnya mengevaluasi bahwa  fiqih tidak hanya mengkaji masalah halal dan haram tetapi juga membahas masalah yang terkait dengan panca-jiwa agar fiqih mampu menjadi sumber etika social.

Ketiga, Pembaharuan pada level filosofis.

Misalnya bahwa Sumber fiqih tidak hanya bersumber pada wahyu tetapi juga menjadikan teori-teori social sebagai bahan rujukan dalam menghasilkan sebuah hukum agar fiqih mampu menjadi solusi dari problem social.*

*By Muriqul Haqqi (Tulisan ini telah diterbiitkan pada buletin Nomos SMJ Syari’ah STAIN Ponorogo edisi April 2010).

 Pendapat saya benar, tapi mungkin juga salah.

Sebaliknya, pendapat orang lain salah, tapi bisa saja benar.

(Imam Syafi’i)

 

Mereka (para ulama terdahulu) adalah manusia biasa,

dan kita pun manusia.

Kita mesti berterima kasih atas (karya dan pemikiran) mereka,

tetapi kita tidak akan mengikuti seluruh pendapat mereka.

(Imam Abu Hanifah)

 

seorang mujtahid yang salah jauh lebih baik

 dari pada

 seseorang yang suka meniru-niru (muqallid),  walaupun kesimpulan hukum yang ia ambil benar.

(Ibn Hazm)


About these ads

About TokiMachi

Menjadi orang yang berguna bagi orang lain itu adalah prinsip hidup saya, melalui Coretan Puena Ini mudah-Mudahan apa yang ada pada diri saya dapat saya transformasikan dan mudah-mudahan berguna bagi mereka.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,527 other followers